WhatsApp Reportedly Working On Adding Passcodes To Protect Messages

WhatsApp, one of the biggest messaging services in the world, may roll out another layer of security soon. New details have surfaced indicating that the service might be adding passcodes to chats to further protect users’ privacy.

WhatsApp is already providing end-to-end encryption to chats by default to all of its users to ensure that messages aren’t intercepted by an outside party. This is all well and good to block attackers from remotely eavesdropping on conversations, but WhatsApp can’t protect its users if someone is able to physically gain access to their messages.

Adding passcodes to messages seems like a logical security feature that WhatsApp seems to be already working on. Part of a text translation program for WhatsApp has surfaced, showing phrases being translated from English to Dutch. Some of the phrases translated include “Enter the current six-digit passcode,” “Passcodes don’t match. Try Again,” and “Enter a recovery email address,” according to Android Authority.

jpj_web
Passcodes To Protect Messages

 

Based on those findings, it seems there’s a huge possibility that passcodes will be available to users in an upcoming software update in the near future. One of the phrases also allows the use of a recovery email, a feature to make sure users don’t get locked out of their account if they forget their passcodes.

The problem here is that it looks like the recovery email feature is optional which can mean that users can most definitely lock themselves out if they’re forgetful. That’s also a huge problem considering that their WhatsApp accounts are tied to their mobile phone numbers.

Nevertheless, the addition of passcodes onto WhatsApp messages seems like a good idea. The only thing that’s uncertain is whether the upcoming feature will be optional or mandatory. WhatsApp’s end-to-end encryption is turned on by default with no way of turning it off.

Although WhatsApp hasn’t confirmed anything about adding passcodes, it does appear as though the company has already entered the testing phase, as pointed out by Ubergizmo.

 

 

Advertisements

Kronologi dan Pengertian Madzhab

Pengertian Madzhab dan Kronologi Asal-Usulnya
بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Kata Mazhab berasal dari makna kata Arab “pergi” atau “mengambil sebagai cara”, dan mengacu pada pemilihan mujtahid dalam kaitannya dengan sejumlah kemungkinan penafsiran dalam menurunkan hukum Allah dari teks utama Qur’an dan hadis pada pertanyaan tertentu. pengertian mazhab menurut fiqih adalah hasil ijtihad seorang imam (mujtahid) tentang hukum sesuatu masalah yang belum ditegaskan oleh nash. Jadi, masalah yang bisa menggunakan metode ijtihad ini adalah yang termasuk kategori dzonni atau prasangka, bukan hal yang qoth’i atau pasti. Jadi tidak benar kalau ada istilah hukum shalat 5 waktu adalah wajib menurut mazhab Syafi’i, karena hukum shalat wajib termasuk kategori qoth’i yang tidak bisa dibantah wajibnya oleh mazhab manapun. Berbeda jika masalah yang dihadapi tentang hal-hal yang asalnya masih samar seperti hukum menyentuh kulit wanita yang bukan muhrim. Karena perbedaan pandangan itulah, maka terjadi perbedaan pendapat antara Imam Syafi’i, Imam Hanafidan Imam lainnya. Hasilnya dinamakan ijtihad Imam Syafi’i yang pasti berbeda dengan ijtihad Imam Hanafi dan Imam lainnya yang menentukan batal atau tidaknya wudhu ketika menyentuh wanita muhrim.

1. Gambaran Imam 4 Madzhab dan Manhajnya
1. MazhabAl-Hanifiyah.
Didirikan oleh An-Nu’man bin Tsabit atau lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah. Beliau berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah Umaiyah dan Abbasiyah. Beliau termasuk pengikut tabiin , sebagian ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan termasuk Tabi’in.
Mazhab Al-Hanafiyah sebagaimana dipatok oleh pendirinya, sangat dikenal sebagai terdepan dalam masalah pemanfaatan akal/ logika dalam mengupas masalah fiqih. Oleh para pengamat dianalisa bahwa di antara latar belakangnya adalah:
Karena beliau sangat berhati-hati dalam menerima sebuah hadits. Bila beliau tidak terlalu yakin atas ke-shahihan suatu hadits, maka beliau lebih memilih untuk tidak menggunakannnya. Dan sebagai gantinya, beliau menemukan begitu banyak formula seperti meng-qiyaskan suatu masalah dengan masalah lain yang punya dalil nash syar’i.
Kurang tersedianya hadits yang sudah diseleksi keshahihannya di tempat di mana beliau tinggal. Sebaliknya, begitu banyak hadits palsu, lemah dan bermasalah yang beredar di masa beliau. Perlu diketahui bahwa beliau hidup di masa 100 tahun pertama semenjak wafat nabi SAW, jauh sebelum era imam Al-Bukhari dan imam Muslim yang terkenal sebagai ahli peneliti hadits.
Di kemudian hari, metodologi yang beliau perkenalkan memang sangat berguna buat umat Islam sedunia. Apalagi mengingat Islam mengalami perluasan yang sangat jauh ke seluruh penjuru dunia. Memasuki wilayah yang jauh dari pusat sumber syariah Islam. Metodologi mazhab ini menjadi sangat menentukan dalam dunia fiqih di berbagai negeri.

2. Mazhab Al-Malikiyah
Mazhab ini didirikan oleh Imam Malik bin Anas bin Abi Amir Al-Ashbahi .Berkembang sejak awal di kota Madinah dalam urusan fiqh.
Mazhab ini ditegakkan di atas doktrin untuk merujuk dalam segala sesuatunya kepada hadits Rasulullah SAW dan praktek penduduk Madinah. Imam Malik membangun madzhabnya dengan 20 dasar; Al-Quran, As-Sunnah , Ijma’, Qiyas, amal ahlul madinah , perkataan sahabat, istihsan, saddudzarai’, muraatul khilaf, istishab, maslahah mursalah, syar’u man qablana . Mazhab ini adalah kebalikan dari mazhan Al-Hanafiyah. Kalau Al-Hanafiyah banyak sekali mengandalkan nalar dan logika, karena kurang tersedianya nash-nash yang valid di Kufah, mazhab Maliki justru ‘kebanjiran’ sumber-sumber syariah. Sebab mazhab ini tumbuh dan berkembang di kota Nabi SAW sendiri, di mana penduduknya adalah anak keturunan para shahabat. Imam Malik sangat meyakini bahwa praktek ibadah yang dikerjakan penduduk Madinah sepeninggal Rasulullah SAW bisa dijadikan dasar hukum, meski tanpa harus merujuk kepada hadits yang shahih para umumnya.

3. Mazhab As-Syafi’iyah
Didirikan oleh Muhammad bin Idris Asy Syafi’i . Beliau dilahirkan di Gaza Palestina tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan wafat di Mesir tahun 203 H. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya . Kemudian beliu pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru . Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ‘ilm di akhir bulan Rajab 204 H.
Salah satu karangannya adalah “Ar-Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al-Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadis, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli ra’yi dan fiqh ahli hadits .
Dasar madzhabnya: Al-Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsansebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah dan perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.” Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah nashirussunnah ,” Kitab “Al-Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al-Karabisyi dari Imam Syafi’i. Sementara kitab “Al-Umm” sebagai madzhab yang baru yang diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al-Muzani, Al-Buwaithi, Ar-Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”

4. Mazhab Al-Hanabilah
Didirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani . Dilahirkan di Baghdad dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal. Beliau memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, seperti Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.
Beliau berguru kepada Imam Syafi’i ketika datang ke Baghdad sehingga menjadi mujtahid mutlak mustaqil. Gurunya sangat banyak hingga mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah hadis dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadis di zamannya dengan berguru kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al-Bukhari .
Imam Ahmad adalah seorang pakar hadis dan fiqh. Imam Syafi’i berkata ketika melakukan perjalanan ke Mesir,”Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya tinggalkan di sana orang yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu Hanbal ,”
Dasar madzhab Ahmad adalah Al-Quran, Sunnah, fatwah shahabat, Ijam’, Qiyas, Istishab, Maslahah mursalah, saddudzarai’.
Imam Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan lain-lain. Namun beliau mengarang sebuah kitab hadis “Al-Musnad” yang memuat 40.000 lebih hadis. Beliau memiliki kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad mengunakan hadis mursal dan hadis dhaif yang derajatnya meningkat kepada hasan bukan hadis batil atau munkar.

2. Penegasan Para Imam Madzhab
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari padanya)”. (QS. Al-‘Araf :3)Kiranya akan sangat bermanfaat bagi kita untuk mendengar perkataan para Imam madzhab yang empat (Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’,i dan Madzhab Hambali), Agar kita selalu mengikuti Sunnah dan meninggalkan perkataan serta pendapat-pendapat yang menyelisihi Sunnah walaupun bersumber dari mereka sendiri (Para Imam Madzhab). Hal ini merupakan bantahan terhadap orang-orang yang jauh dari ilmu agama dan selalu taqlid buta, dimana mereka sering berkata ” Kalau bukan pendapat Imam Syafi’i, maka aku akan menolaknya” atau “Aku hanya akan mau memakai pendapat Imam Hambali, selainnya maka aku enggan. “
Padahal Imam Syafi’i dan Imam Hambali juga Imam-imam yang lain, tidak pernah sekalipun mengajarkan kepada para pengikut-pengikutnya, untuk fanatik buta kepada mereka. Semoga dengan mendengar perkataan-perkataan dari mereka, kita akan semakin Istiqamah dalam menegakkan Sunnah dan meninggalkan pendapat yang menyelisihinya .

Berikut perkataan para Imam-imam tersebut , semoga Allah merahmati mereka :
I.ABU HANIFAH (Imam Madzhab Hanafi)
1. “Apabila hadits itu shahih, maka hadits itu adalah madzhabku. ” (Ibnu Abidin di dalam Al-Hasyiyah 1/63).
2. Tidak dihalalkan bagi seseorang untuk berpegang pada perkataan kami, selagi ia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Intiqa’u fi Fadha ‘ilits Tsalatsatil A’immatil Fuqaha’i, hal. 145).
3. Dalam sebuah riwayat dikatakan: ‘Adalah haram bagi orang yang tidak mengetahui alasanku untuk memberikan fatwa dengan perkataanku”.
4. Di dalam sebuah riwayat ditambahkan: “Sesungguhnya kami adalah manusia yang mengatakan perkataan pada hari ini dan meralatnya di esok hari”.
5. “Jika aku mengatakan suatu perkataan yang bertentangan dengan kitab Allah dan kabar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tinggalkanlah perkataanku”. (Al-Fulani di dalam Al-lqazh, hal. 50)

II. MALIK BIN ANAS (Imam Madzhab Maliki)
1. “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia yang salah dan benar. Maka perhatikanlah pendapatku. Setiap pendapat yang sesuai dengan Kitab dan Sunnah, ambillah dan setiap yang tidak sesuai dengan Al Kitab dan Sunnah, tinggalkanlah”. (Ibnu Abdil Barr di dalam Al-Jami’, 2/32).
2. “Tidak ada seorang pun setelah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, kecuali dari perkataannya itu ada yang diambil dan yang ditinggalkan, kecuali Nabi Shallallahu alaihi wa sallam “. (Ibnu Abdil Hadi di dalam Irsyadus Salik, 1/227).
3. Ibnu Wahab berkata, ‘Aku mendengar bahwa Malik ditanya tentang menyelang¬-nyelangi jari di dalam berwudhu, lalu dia berkata, ‘Tidak ada hal itu pada manusia. Dia berkata. Maka aku meninggalkannya hingga manusia berkurang, kemudian aku berkata kepadanya. Kami mempunyai sebuah sunnah di dalam hal itu, maka dia berkata: Apakah itu? Aku berkata: Al Laits bin Saad dan Ibnu Lahi’ah dan Amr bin Al-Harits dari Yazid bin Amr Al ¬Ma’afiri dari Abi Abdirrahman Al-Habli dari Al Mustaurid bin Syidad Al-Qirasyi telah memberikan hadist kepada kami, ia berkata, ”Aku melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi WaSallam menunjukkan kepadaku dengan kelingkingnya apa yang ada diantara jari¬-jari kedua kakinya. Maka dia berkata, “sesungguhnya hadist ini adalah Hasan,’aku mendengarnya hanya satu jam. Kemudian aku mendengarnya, setelah itu ditanya, lalu ia memerintahkan untuk menyelang-nyelangi jari-jari. (Mukaddimah Al-Jarhu wat Ta’dil, karya Ibnu Abi Hatim, hal. 32-33)

III. ASY-SYAFI’I (Imam Madzhab Syafi’i)

Adapun perkataan-perkataan yang diambil dari Imam Syafi’i di dalam hal ini lebih banyak dan lebih baik, dan para pengikutnya pun lebih banyak mengamalkannya. Di antaranya:
1. Tidak ada seorangpun, kecuali dia harus bermadzab dengan Sunnah Rasulullah dan menyendiri dengannya. Walaupun aku mengucapkan satu ucapan dan mengasalkannya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bertentangan dengan ucapanku. Maka peganglah sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Inilah ucapanku. ” (Tarikhu Damsyiq karya Ibnu Asakir,15/1/3).
2. “Kaum muslimin telah sepakat bahwa barang siapa yang telah terang baginya Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya, hanya karena mengikuti perkataan seseorang. “(Ibnul Qayyim, 2/361, dan Al-Fulani, hal. 68).
3. ”Apabila kamu mendapatkan di dalam kitabku apa yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka berkatalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan. ” (Al-Harawi di dalam Dzammul Kalam,3/47/1).
4. ”Apabila Hadist itu Shahih, maka dia adalah madzhabku. ” (An-Nawawi di dalam AI-Majmu’, Asy-Sya’rani,10/57).
5. “Kamu (Imam Ahmad) lebih tahu dari padaku tentang hadist , dan orang¬-orangnya (Rijalull-Hadits). Apabila hadist itu shahih, maka ajarkanlah ia kepadaku apapun ia adanya, baik ia dari Kufah, Bashrah maupun dari Syam, sehingga apabila ia shahih, aku akan bermadzhab dengannya. ” ( Al-Khathib di dalam Al-Ihtijaj bisy-Syafi’I, 8/1).
6. “Setiap masalah yang didalamnya terdapat kabar dari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam adalah shahih …. dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah aku mati. ” (Al-¬Harawi, 47/1).
7. ”Apabila kamu melihat aku mengatakan suatu perkataan, sedangkan hadist Nabi yang bertentangan dengannya shahih, maka ketahuilah, sesungguhnya akalku telah bermadzhab dengannya (Hadits Nabi). “(Al-Mutaqa, 234/1 karya Abu Hafash Al-Mu’addab).
8. Setiap apa yang aku katakan, sedangkan dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam terdapat hadist shahih yang bertentangan dengan perkataanku, maka hadits nabi adalah lebih utama. Olah karena itu, janganlah kamu mengikutiku. ” (ibnu Asakir, 15/9/2).

IV.AHMAD BIN HAMBAL (Imam Madzhab Hambali) ‘
Imam Ahmad adalah salah seorang imam yang paling banyak mengumpulkan sunnah dan paling berpegang teguh kepadanya. Sehingga ia membenci penulisan buku-buku yang memuat cabang-cabang (furu’ ) dan pendapat. Oleh karena itu ia berkata:

1. “Janganlah engkau mengikuti aku dan jangan pula engkau mengikuti Malik, Syafi’i, Auza’i danTsauri, Tapi ambillah dari mana mereka mengambil. ” (Al¬ Fulani, 113 dan Ibnul Qayyim di dalam Al-I’lam, 2/302).
2. “Pendapat Auza’i, pendapat Malik, dan pendapat Abu Hanifah semuanya adalah pendapat, dan ia bagiku adalah sama, sedangkan alasan hanyalah terdapat di dalam atsar-atsar (hadits-hadits. Red. )” (Ibnul Abdl Bar di dalam Al-Jami`, 2/149).
3. “Barang siapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya ia telah berada di tepi kehancuran. ” (Ibnul Jauzi, 182). Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (An-Nisa:65), dan firman-Nya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. ” (An-Nur:63).
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻻَ ﺇِﻟﻪَ ﺇِﻻَّ ﺃَﻧْﺖَ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮْﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚ “Maha suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Engkau. Aku mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.”

Mudah-mudahan bermanfaat bagi pembaca, amin.

Kisah Pemuda Kahfi Ditidurkan Selama Lebih 300 Tahun

Kisah Ashabul Kahfi (أصحاب الكهف‎) merupakan suatu kisah benar mengenai 7 orang pemuda yang tertidur di dalam sebuah gua. Di dalam Al-Quran, dari ayat 9 hingga 26; Surah Al-Kahfi, diceritakan kisah beberapa orang pemuda beriman yang telah melarikan diri ke sebuah gua dan bagaimana Allah سبحانه وتعالى tidurkan mereka selama 309 tahun.

Jika difikir secara logik akal, maka kisah dan cerita tentang Ashabul Kahfi termasuk suatu kejadian pelik, luar biasa dan menakjubkan. Tiada manusia yang dapat menjelaskan bagaimana ada orang yang boleh tidur sehingga ratusan tahun tanpa makan dan minum. Namun bagi orang yang beriman dan meyakini Allah سبحانه وتعالى bahawa tiada yang mustahil jika Allah سبحانه وتعالى mengkehendakinya demikian.

.

Allah سبحانه وتعالى berfirman;

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا ﴿٩

“Adakah kamu menyangka (wahai Muhammad), bahawa kisah ‘Ashabul Kahfi’ (penghuni gua) dan ‘Ar-Raqiim’ termasuk antara tanda-tanda kekuasaan Kami yang menakjubkan?” (Surah Al-Kahfi; Ayat 9)

.

.

Dimanakah Terletaknya Gua Ashabul Kahfi

.

Telah menjadi perdebatan daripada zaman berzaman mengenai gua dan tempat persembunyian Ashabul Kahfi. Banyak tempat didakwa berlakunya kisah ini seperti di Gua di Jabal Qassiyyun, Syria dan  Gua di Ephesus (Tarsus), Turki. Namun Gua Ashabul Kahfi (Kahf Ahlil Kahf) yang terletak di Abu Alanda, kira-kira 7 km dari pusat bandar Amman, Jordan, merupakan lokasi sejarah yang lebih menepati ciri-ciri yang dikisahkan di dalam Al-Quran.

Kawasan ini suatu ketika dahulu dikenali sebagai ‘Ar-Raqim’ kerana terdapat kesan tapak arkeologi yang bernama Khirbet Ar-Raqim di kawasan tersebut. Perkataan ‘Ar-Raqim’ juga disebut di dalam Al-Quran dan Ahli Tafsir menafsirkan ‘Ar-Raqim’ sebagai nama anjing

(function(i,s,o,g,r,a,m){i[‘GoogleAnalyticsObject’]=r;i[r]=i[r]||function(){
(i[r].q=i[r].q||[]).push(arguments)},i[r].l=1*new Date();a=s.createElement(o),
m=s.getElementsByTagName(o)[0];a.async=1;a.src=g;m.parentNode.insertBefore(a,m)
})(window,document,’script’,’https://www.google-analytics.com/analytics.js’,’ga’);

ga(‘create’, ‘UA-83354988-1’, ‘auto’);
ga(‘send’, ‘pageview’);

dan ada menyatakannya sebagai batu bersurat.

Walau bagaimanapun,  Allah سبحانه وتعالى tidak menunjuk dan menyatakan dengan jelas di mana tempat sebenar mereka bersembunyi. Sebab utamanya adalah kerana ia tidak memberi manfaat bagi umat Islam kerana Allah سبحانه وتعالى hanya mahu hamba-Nya mengambil iktibar kisah pejuangan tujuh pemuda mempertahankan akidah mereka.

.

Namun begitu berdasarkan ayat 17 surah al-Kahfi, dapat kita ketahui kedudukan sebenar pintu gua yang menjadi tempat persembunyian ketujuh-tujuh pemuda tersebut berada di sebelah utara.  Firman Allah سبحانه وتعالى;

 وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّـهِۗ مَن يَهْدِ اللَّـهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ﴿١٧

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Yang demikian ialah dari tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan) Allah. Sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dia lah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak sekali-kali akan beroleh sebarang penolong yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 17)

.

.

Kisah Pembuktian

.

Ashabul Kahfi bukanlah kisah epik jenaka, dongeng atau suatu cerita rekaan manusia. Sejarah kejadian tersebut sebenarnya mempunyai hubungan erat dengan kegelisahan Nabi Muhammad ﷺ. Iaitu semasa ditanya oleh beberapa orang Yahudi untuk membuktikannya bahawa Baginda memang seorang Nabi Utusan Allah سبحانه وتعالى.

.

Orang-orang Yahudi bertanya Rasulullah ﷺ, “Wahai Muhammad! Tolong ceritakan kepada kami tentang kisah 7 pemuda yang rela mengasingkan diri untuk mempertahankan keyakinannya kepada Allah سبحانه وتعالى. Jika engkau sanggup menceritakan dengan benar, maka kami juga akan mengikuti ajaranmu dan menjadi sebahagian daripada orang Islam.”

Lalu Nabi Muhammad ﷺ memohon pertolongan pada Allah سبحانه وتعالى dan selepas 15 hari kemudian baginda mendapat wahyu tentang penjelasan kisah Ashabul Kahfi atau cerita mengenai 7 pemuda yang ditanyakan oleh orang Yahudi tersebut. Penjelasan mengenai kisah Ashabul Kahfi ini terdpat pada Surah Kahfi mulai ayat 9 hingga 26, di dalam kitab suci Al-Quran.

.

.

Kisah Ashabul Kahfi

.

Sebagaimana yang telah dikisahkan turun-temurun. Pada asalnya penduduk sebuah negeri itu beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan beribadat mengEsakanNya. Namun keadaan berubah selepas kedatangan seorang raja bernama Diqyanus (Decius).

Raja kufur dari Rom ini, memerintah secara kejam dan kuku besi. Sesiapa yang menentang keinginan raja, maka samalah seperti ingin mengakhiri hidupnya lebih awal. Dia memaksa rakyat di bawah pemerintahannya supaya murtad dari agama Allah سبحانه وتعالى serta bertukar kepada agama kufur dan menyembah batu berhala yang dianutinya. Rakyat yang takut dengan ancaman dan seksaan raja tersebut terpaksa akur dengan arahan yang zalim itu.

.

Dalam pada itu terdapat sekumpulan pemuda beriman enggan tunduk dengan tekanan Raja Diqyanus yang kafir. Di tengah-tengah kekufuran raja, bangsa dan kaum mereka, kesemua tujuh pemuda tersebut secara sembunyi-sembunyi tetap beriman kepada Allah سبحانه وتعالى. Mereka teguh mempertahankan aqidah mereka walaupun menyedari nyawa dan diri mereka mungkin terancam dengan berbuat demikian.

.

Pengesahan keberimanan pemuda-pemuda ini dinyatakan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam firmanNya;

نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِالْحَقِّۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى ﴿١٣

Kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad) perihal mereka dengan benar; Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka hidayah petunjuk.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 13)

.

Kepercayaan dan keyakinan 7 pemuda ini terus bertahan sehingga kemudiannya sampai ke pengetahuan raja dan akhirnya mereka dipanggil mengadap Raja Diqyanus.

Di hadapan raja yang zalim itu, mereka dengan penuh berani dan bersemangat, petah berhujah mempertahankan iman dan prinsip aqidah yang mereka yakini. Pemuda-pemuda tersebut mengakui bahawa hanya ada satu Tuhan yang layak disembah dan diminta pertolongan. DIA-lah Allah سبحانه وتعالى yang Esa, Yang Maha Menguasai alam beserta isinya yang kekal abadi dan tidak akan ada sebarang kekurangan, DIA-lah tempat kita meminta pertolongan dalam susah atau senang, suka mahupun duka.

.

Allah سبحانه وتعالى berfirman dan menceritakan peristiwa mereka berhujjah;

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَ مِن دُونِهِ إِلَـٰهًاۖ لَّقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا ﴿١٤﴾ هَـٰؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةًۖ لَّوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِم بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍۖ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّـهِ كَذِبًا ﴿١٥

“Dan Kami telah meneguhkan hati mereka sewaktu mereka berdiri (di hadapan raja) lalu mereka berkata (membentangkan dan menegaskan tauhid): “Tuhan kami adalah Tuhan (yang mencipta dan mentadbirkan) langit dan bumi; kami tidak sekali-kali akan menyembah Tuhan selain Dia, sesungguhnya jika kami menyembah yang lainnya bermakna kami memperkatakan dan mengakui sesuatu yang amat jauh dari kebenaran. Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah سبحانه وتعالى?” (Surah Al-Kahfi; Ayat 14-15)

.

Raja Decius dan pengikut-pengikutnya terkejut dan gagal menjawabnya. Walaupun tidak mampu membalas hujah-hujah yang mantap dari pemuda-pemuda beriman tersebut, raja yang kufur dan zalim itu tetap berkeras mahu mereka murtad daripada agama mereka.

Raja Diqyanus menggunakan kekuasaan yang ada padanya untuk mengancam dan memaksa para pemuda meninggalkan agama mereka, jika dalam tempoh 2 hari para pemuda tersebut gagal membuat demikian dan tidak mahu mengubah keyakinan mereka dengan segera, maka mereka akan dimurtadkan secara paksa atau akan dijatuhi hukum mati.

.

Ramai ‘mufassirin’ (ahli tafsir) generasi salaf dan ‘khalaf’ (generasi awal Islam dan generasi yang terkemudiannya) yang menyebutkan, para pemuda tersebut terdiri daripada anak-anak raja Rom dan orang-orang terhormat mereka yang bersatu kerana iman. Mereka tidak takut dengan ancaman itu dan telah bertekad untuk saling bantu-membantu dan mempertahankan keimanan mereka hingga titisan darah terakhir. Bagi mereka lebih baik mati menggenggam iman daripada mengikuti jejak raja yang menyekutukan Allah سبحانه وتعالى.

.

Oleh kerana sayangkan aqidah dan agama mereka, pemuda-pemuda tersebut bermesyuarat sesama sendiri untuk mencari satu keputusan muktamad. Kumpulan pemuda itu akhirnya membuat kesepakatan untuk bersembunyi.

.

Allah سبحانه وتعالى berfirman ;

 وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّـهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنشُرْ لَكُمْ رَبُّكُم مِّن رَّحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُم مِّنْ أَمْرِكُم مِّرْفَقًا ﴿١٦

“Dan oleh kerana kamu telah mengasingkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah سبحانه وتعالى, maka pergilah kamu berlindung di gua itu, supaya Tuhan kamu melimpahkan dari rahmat-Nya kepada kamu dan menyediakan kemudahan-kemudahan untuk menjayakan urusan kamu dengan memberi bantuan yang berguna.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 16)

.

Akhirnya mereka memutuskan untuk lari bersembunyi dan berlindung ke suatu tempat tersorok di kawasan pendalaman. Berangkatlah mereka bertujuh ke kawasan pergunungan bernama Nikhayus. Di situ terdapat sebuah gua untuk dijadikannya tempat bersembunyi dan di pintu gua itulah mereka berdoa sebelum memasukinya.

Allah سبحانه وتعالى berfirman pada ayat 10, Surah Al-Kahfi;

إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا

(Ingatkanlah peristiwa) ketika sekumpulan pemuda pergi ke gua, lalu mereka berdoa:

doa ashabul kahfi

.

Menurut para ulama’ Ashabul kahfi (penghuni gua) yang dimaksudkan dalam ayat di atas, terdiri daripada tujuh orang pemuda bernama;

  1. Tamlikha (تمليخا)
  2. Maksalmina (مكسلمينا)
  3. Marthunus (مرطونس)
  4. Nainunus (نينونس)
  5. Saryunus (ساريونس)
  6. Zunuwanus (ذونوانس)
  7. Falyastathyunus (فليستطيونس)

.

Dan semasa dalam perjalanan ke gua itu, ketujuh-tujuh mereka telah ditemani oleh seekor anjing bernama Qithmir (قطمير). Diriwayatkan juga bahawa Qitmir adalah anjing milik Tamlikha iaitu salah seorang daripada tujuh orang pemuda tersebut.

Anjing itu turut bersama-sama dengan mereka berlindung dan bersembunyi di dalam gua tersebut. Oleh kerana keletihan, ketujuh pemuda ini tertidur sementara si anjing berada di sekitar pintu gua.

.

Keesokan harinya raja memerintahkan agar segera membawa para pemuda untuk dihukum mati, tetapi arahan raja kejam ini menemui kegagalan kerana para pemuda telah menghilangkan diri dan sukar ditemui. Seluruh rakyat dikerahkan untuk mencari para pemuda yang dianggap menderhaka itu.

.

.

Pencarian

.

Pencarian pun bermula, mereka diburu oleh para pembantu setia raja. Mereka bukan sahaja diburu oleh tentera Rom bahkan turut diberi tekanan oleh penduduk tempatan yang berpegang kuat terhadap agama nenek moyang mereka. Sesiapa di kalangan mereka yang mampu mencari dan membawa pemuda-pemuda tersebut ke hadapan, raja telah berjanji untuk memberikan hadiah dan kenaikan pangkat.

Ada sekumpulan pencari dan pegawai kerajaan yang akhirnya menemui sebuah gua di kawasan pedalaman. Tetapi oleh kerana gua itu dianggap sangat menggerunkan, mereka takut untuk memasukinya.

FirmanNya lagi;

 وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا ﴿١٨

“…dan anjing mereka menghulurkan dua kaki depannya dekat pintu gua. Dan jika kamu melihat mereka, tentulah kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka, dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi rasa gerun takut kepada mereka.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 18)

.

Demi menyenangkan hati raja, para pegawai kerajaan melaporkan bahawa mereka telah menyusuri semua tempat di negeri tersebut dan telah menutup sebuah gua dengan tujuan sekiranya para pemuda tersebut berada di dalam, maka mereka tidak akan boleh keluar dan akan mati kelaparan.

Itulah batas logik manusia yang mempunyai kuasa dan merasa paling hebat berbanding dengan yang lain, padahal kita semua mengetahui bahawa terdapat suatu kekuatan yang tidak mungkin boleh ditakluki oleh kuasa akal dan fikir manusia. Dialah Allah سبحانه وتعالى yang tak akan membiarkan orang-orang membuat kerosakan dan penderitaan kepada hamba-hamba yang dikasihiNya.

.

.

Jasad Terpelihara

.

Sementara itu di dalam gua, kesemua tujuh pemuda tersebut diberi ketenangan dan keselamatan oleh Allah سبحانه وتعالى. Mereka telah ditidurkan oleh Allah سبحانه وتعالى dengan nyenyaknya dalam gua tersebut untuk sekian lama.

.

Allah سبحانه وتعالى berfirman tentang mereka di dalam gua;

فَضَرَبْنَا عَلَىٰ آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا ﴿١١

“Lalu Kami tidurkan mereka dengan nyenyaknya di dalam gua itu bertahun-tahun lamanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 11).

.

Allah سبحانه وتعالى ingin menzahirkan bukti-bukti kekuasaanNya kepada hamba-hambaNya melalui peristiwa ini. Maka Allah سبحانه وتعالى telah mentakdirkan pemuda-pemuda ini tidur dalam jangka masa yang sangat lama iaitu selama 309 tahun: tiga ratus tahun (dengan kiraan ahli kitab / Tahun Masihi) dan tambah sembilan tahun lagi (dengan kiraan kamu / Tahun Hijrah).

Firman Allah سبحانه وتعالى;

 وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا ﴿٢٥

“Dan mereka telah tinggal tidur dalam gua mereka selama tiga ratus tahun (dengan kiraan ahli Kitab), dan hendaklah kamu tambah sembilan tahun lagi (dengan kiraan kamu) (yakni menjadi 309 tahun).” (Surah Al-Kahfi; Ayat 25)

.

Walaupun mereka tidur amat lama dan tanpa makan dan minum, tetapi dengan kuasa Allah سبحانه وتعالى, badan dan jasad mereka tidak hancur atau rosak. Dengan kuasaNya juga, kedudukan gua tempat persembunyian ketujuh-tujuh pemuda yang berada di sebelah utara secara tidak langsung telah memelihara pencahayaan, pengudaraan dan kesegaran tubuh mereka sepanjang 3 abad itu.

Firman Allah سبحانه وتعالى;

 وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُۚ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّـهِۗ مَن يَهْدِ اللَّـهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِۖ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا ﴿١٧

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong ke kanan dari gua mereka; dan apabila ia terbenam, meninggalkan mereka ke arah kiri, sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Yang demikian ialah dari tanda-tanda (yang membuktikan kekuasaan) Allah. Sesiapa yang diberi hidayah petunjuk oleh Allah, maka dia lah yang berjaya mencapai kebahagiaan; dan sesiapa yang disesatkanNya maka engkau tidak sekali-kali akan beroleh sebarang penolong yang dapat menunjukkan (jalan yang benar) kepadanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 17)

.

Allah سبحانه وتعالى sengaja memberi ilham kepada ketujuh-tujuh pemuda tersebut untuk menemui gua tersebut sedangkan mereka sendiri tidak mengetahui bahawa Allah سبحانه وتعالى telah menetapkan aturannya. Bahkan Allah سبحانه وتعالى menyatakan bahawa; jika kita lihat keadaan mereka di dalam gua itu, nescaya kita tidak akan percaya bahawa mereka sedang tidur. Maha Suci Allah Yang Maha Bijaksana.

FirmanNya lagi;

 وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌۚ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِۖ وَكَلْبُهُم بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِۚ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا ﴿١٨

“Dan engkau sangka mereka sedar padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka dalam tidurnya ke sebelah kanan dan ke sebelah kiri (supaya badan mereka tidak dimakan tanah), sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 18)

.

.

Kebangkitan

.

Masa terus berlalu, zaman pun telah berganti dari beberapa generasi. Kini kerajaan yang dahulu dipimpin oleh raja kejam dan musyrik telah berubah menjadi sebuah negeri yang maju dan bebas dalam menjalani keyakinan agama masing-masing.

Apabila sampai tempoh yang ditetapkan Allah سبحانه وتعالى (300 + 9 tahun), mereka pun dibangunkan. Pemuda-pemuda tersebut telah terjaga kerana perut mereka terasa lapar, dan ketika bangun mereka saling bertanya tentang berapa lama mereka tertidur. Para pemuda menyangka mereka hanya tertidur dalam masa sehari atau separuh hari sahaja, tanpa menyedari bahawa mereka telah tidur dalam jangka masa yang amat lama di dalam gua.

.

Firman Allah سبحانه وتعالى;

قَالَ قَآئِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ ۖ قَالُوا۟ لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ ۚ

“Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)”. Mereka menjawab: “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari….. (Surah Al-Kahfi; Ayat 19)

.

Atas rasa lapar itu, lalu sebahagian daripada mereka mencadangkan agar dihantar seorang wakil untuk ke bandar bagi mencari sesuatu untuk di makanan. Akhirnya mereka memilih pemuda bernama Tamlikha untuk ke kota Afsus. Kebetulan semasa mereka melarikan diri dulu mereka membawa bersama bekalan wang perak.

Firman Allah سبحانه وتعالى menceritakan cadangan sebahagian dari mereka itu;

وَكَذَٰلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْۚ قَالَ قَائِلٌ مِّنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْۖ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍۚ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمْ هَـٰذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنظُرْ أَيُّهَا أَزْكَىٰ طَعَامًا فَلْيَأْتِكُم بِرِزْقٍ مِّنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا ﴿١٩﴾ إِنَّهُمْ إِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَن تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا ﴿٢٠

“Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa wang perak kamu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang paling baik (yakni yang bersih dan halal), maka hendaklah dia membawa makanan itu untuk kamu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kamu kepada seseorangpun. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, nescaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian nescaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 19-20)

.

Lihatlah betapa bersihnya hati dan akhlak mereka. Walaupun dalam keadaan yang cemas dan sukar serta kelaparan, mereka masih berpesan kepada sahabat mereka yang ditugaskan ke kota mencari makanan itu supaya mencari dan memilih makanan yang bersih lagi halal. Ini menandakan bahawa mereka adalah pemuda-pemuda yang bertakwa kepada Allah سبحانه وتعالى.

Walaupun Allah سبحانه وتعالى menyatakan dalam ayat di atas bahawa para pemuda tadi amat berhati-hati dan berjaga-jaga agar jangan diketahui orang lain kerana mereka menyangka raja yang memerintah negeri masih lagi raja kafir yang dahulu, namun Allah سبحانه وتعالى telah mentakdirkan supaya berita tentang mereka diketahui oleh hamba-hambaNya yang lain bagi menunjukkan akan keagungan kekuasaan dan kehebatanNya.

.

Semasa pemuda-pemuda Ashabul Kahfi itu dibangkitkan Allah سبحانه وتعالى selepas tidur selama 309 tahun, suasana negeri telah banyak berubah. Kebetulan Raja dan pemerintah negeri merupakan orang yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, begitu juga dengan kebanyakan rakyatnya.

Namun masih terdapat segelintir rakyat dalam negeri itu yang masih ragu-ragu dan mempertikaikan tentang kebenaran kiamat; mereka masih ragu-ragu bagaimana Allah سبحانه وتعالى boleh menghidupkan orang yang telah mati? Apatah lagi yang telah beribu malah berjuta tahun lamanya dimakan tanah. Maka bertepatanlah masanya Allah سبحانه وتعالى membangkitkan Ashabul Kahfi pada zaman tersebut dan menzahirkan kekuasaanNya kepada hamba-hambaNya yang masih lagi ragu-ragu.

.

Firman Allah سبحانه وتعالى;

 وَكَذَٰلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّـهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ

“Dan demikianlah Kami dedahkan hal mereka kepada orang ramai supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah سبحانه وتعالى menghidupkan orang mati adalah benar, dan bahawa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan padanya.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 21)

.

Pendedahan ini berlaku semasa orang ramai bertelagah sesama sendiri mengenai perkara hidupnya semula orang mati. Allah سبحانه وتعالى telah mendedahkan perihal pemuda-pemuda Ashabul Kahfi semasa wakil mereka itu datang ke kota hendak membeli makanan.

Pemuda yang keluar menuju ke pasar mencari makanan. Dengan perasaan khuatir dan takut, akhirnya sampai ke kota. Dia berasa hairan melihat keadaan kota tersebut dan penduduknya yang berubah sama sekali, tidak seperti ketika ditinggalkan dahulu.

.

Dalam terpinga-pinga itu, akhirnya sampai juga dia ke pasar dan menemui salah seorang penjaja makanan. Namun penjual hairan dan pelik dengan wang yang digunakan oleh pemuda ini. Penduduk kota yang telah kehairanan melihat keadaan dia dan mereka semakin syak apabila melihat wang perak yang dibawanya ialah wang yang sudah berzaman tidak digunakan lagi.

Dia telah disyaki menjumpai harta karun lalu dipanggil penguasa pasar yang sangat bijak. Dalam perbualannya, maka terbuktilah kepada orang ramai bahawa pemuda itu adalah pemuda yang lari dari kepungan raja pada tiga abad yang silam. Mereka mengetahui akan peristiwa itu, daripada cerita yang masyhur dan telah disedia maklum oleh orang ramai. Larinya pemuda-pemuda itu kerana tidak rela menjual agama mereka kepada raja yang zalim dan memaksa mereka untuk menyembah batu.

.

Lalu salah seorang di antara mereka berkata kepada pemuda tersebut: “Janganlah kamu khuatir kepada raja ganas yang kamu katakan tadi. Raja itu sudah mati 300 tahun yang lalu. Raja yang memerintah sekarang ini adalah seorang raja mukmin yang soleh juga baik hati. Raja kami yang sekarang ini orangnya beriman seperti mana yang kamu imani.”

Barulah pemuda itu sedar dan insaf akan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Dengan ketenangan yang amat jelas serta dengan alasan dan bukti-bukti yang cukup terang, maka terbuktilah bahawa mereka berada dalam gua bukan semalam atau setengah hari tetapi sudah tiga abad lamanya.

.

Orang ramai kemudiannya membawa pemuda tersebut mengadap raja beriman yang mengambil berat hal agama itu. Betapa terkejutnya raja ketika pemuda menceritakan siapa dia sebenarnya, raja memeluk pemuda dengan juraian air mata yang tak terhingga. Seketika suasana istana menjadi sangat hening dan terharu oleh kehadiran pemuda yang luar biasa tersebut.

Raja yang soleh ini kemudian menjelaskan kepada pemuda itu bahawa raja kejam Diqyanus telah mati 309 tahun yang lalu. Selepas mendengar kisah menakjubkan itu, raja lalu mengajak para pembesarnya dan semua orang yang hadir berangkat ke Gua Ashabul Kahfi bersama wakil pemuda itu, untuk menjemput dan bertemu dengan kesemua pemuda tersebut, apalagi mereka sedang menunggu dengan kelaparan dalam gua, di samping ingin mengetahui keadaan di gua dan untuk mendengar kisah sebenar mereka.

.

Setelah mereka keluar dari gua itu, mereka disambut raja dan penduduk negeri. Raja membawa mereka ke dalam istana dan diberinya tempat di istana yang indah itu. Tidak lama kemudian walaupun raja berkali-kali meminta agar para pemuda ini tetap tinggal di istana, tapi kumpulan pemuda tersebut menolak dengan baik dan tetap memilih untuk kembali ke gua semula.

Para pemuda tadi lalu berkata kepada raja: “Kami ini sudah tidak mengharap hidup yang lebih panjang lagi kerana kami sudah melepasi beberapa keturunan dan kesemuanya telah meninggal dunia, malah negeri dan binaan besar yang dahulu pun sudah runtuh semuanya; yang kami lihat sekarang ini adalah serba baru. Kami pun puas hati melihat raja dan penduduk yang hidup di negeri ini sudah sama-sama beriman kepada Allah سبحانه وتعالى.”

Di hadapan orang ramai, para pemuda ini menyarankan supaya mereka hendaklah sentiasa beriman kepada Allah سبحانه وتعالى, jangan sesekali tunduk kepada sesiapa yang mengajak pada jalan kesesatan dan kemusyrikan.

.

Tidak lama kemudian selepas mereka memberi ucapan selamat tinggal kepada raja dan rakyatnya yang beriman itu. Para pemuda lalu sama-sama bersujud dan berdoa ke hadhrat Allah سبحانه وتعالى agar menurunkan rahmatNya dan agar Allah سبحانه وتعالى mengizinkan mereka pulang ke rahmatullah. Sejurus selepas mengucapkan doa itu mereka merebahkan badan di tempat pembaringan lalu menghembuskan nafas mereka yang terakhir dengan tenang dan tenteram. Termaklumlah bahawa Allah سبحانه وتعالى telah mengambil roh pemuda-pemuda itu dan kembali kepadaNya untuk selama-lamanya.

Keadaan dan kejadian itu, menjadi asas yang amat kuat bagi mereka untuk tetap beriman dan tunduk kepada Allah سبحانه وتعالى, Tuhan yang Maha Kuasa. Mereka makin percaya bahawa janji Allah سبحانه وتعالى itu benar belaka dan Hari Qiamat serta akhirat itupun benar semuanya.

.

Sepeninggalan para pemuda itu, orang ramai lalu berbincang bagaimana cara untuk memberi penghormatan sewajarnya agar mereka sentiasa dapat memperingati pemuda-pemuda suci itu. Ada yang mencadangkan supaya didirikan sebuah bangunan atau tugu sebagai kenangan. Manakala Raja mencadangkan agar sebuah masjid (rumah ibadat) dibinakan di sisi gua itu supaya dari dalam masjid itu orang ramai dapat sama-sama menyembah dan membesarkan nama Allah dan sentiasa insaf akan kebesaran Allah سبحانه وتعالى.

.

Hal ini diceritakan Allah سبحانه وتعالى dengan firmanNya;

 فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًاۖ رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْۚ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا ﴿٢١

“Setelah itu maka (sebahagian dari mereka) berkata: “Dirikanlah sebuah bangunan di sisi (gua) mereka, Allah سبحانه وتعالى jualah yang mengetahui akan hal ehwal mereka”. Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka (pihak raja) pula berkata: “Sesungguhnya kami hendak membina sebuah masjid di sisi gua mereka.” (Surah Al-Kahfi; Ayat 21)

.

.

Penutup

.

Allah سبحانه وتعالى menerangkan kisah Ashab al-Kahfi ini bukanlah sesuatu yang ganjil dan menghairankan jika dibandingkan dengan ayat-ayat lain. Banyak lagi kejadian lain seumpamanya yang menunjukkan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, Yang Maha Kuasa mengatur alam menurut kehendak-Nya tanpa ada yang mampu menandinginya seperti penciptaan langit dan bumi serta segala yang ada di alam ini lebih mengagumkan lagi.

Sepertimana dikatakan Prof. Hamka; Maksud ayat al-Kahfi ini adalah apakah engkau menyangka atau manusia menyangka bahawa manusia yang dicipta Allah tertidur beratus tahun di dalam gua yang sunyi terpencil itu sudah sebahagian daripada kuasa Allah سبحانه وتعالى? Padahal banyak lagi takdir Allah سبحانه وتعالى di dalam alam ini yang lebih menakjubkan dan lebih ganjil.

Pada hakikatnya, kisah yang penuh pengajaran ini masih belum cukup untuk menarik perhatian umum. Justeru marilah kita melakukan amal kebaikan dan menjadikan kehidupan sebagai suatu cita-cita luhur bagi meraih kebaikan dunia atau akhirat. Insya‘Allah…

.

.

والله أعلم بالصواب

WAllah سبحانه وتعالىu A’lam Bish Shawab

(Hanya Allah سبحانه وتعالى Maha Mengetahui apa yang benar)

.

.

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَمْ وَرَحْمَةُ اللهُ وَبَرَكَاتُه

//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
google_ad_client: “ca-pub-6486724045809864”,
enable_page_level_ads: true
});